Pages

Subscribe

Sunday, 23 February 2014

Mendidik anak ala Rasulullah 'alaihis salam



" اذا مات الإنسا ن انقطع عمله الا من ثلا ثلا ث: صدقة جارية, أو علم ينتفع به, أو ولد صالح يدعو له."
“ Jika seseorang meninggal, amalnya sudah terputus, kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholih yang mendo’akan kebaikan untuknya.”  

Telah kita ketahui bersama, Rosulullah pernah mengabarkan pada kita bahwa ada tiga amalan yang bisa dinikmati walaupun telah menginggalkan dunia. Salah satu amal yang tidak pernah terputus pahalanya sekalipun kita telah meninggal dunia adalah anak yang sholih. Do’anya yang merupakan salah satu do’a yang insya Allah terkabul. Oleh karenanya,orang tua harus mendidik anak dengan sebaik-baiknya. Namun jika tidak, anak akan tumbuh menjadi seorang yang berkepribadian rusak dan hancur dan akhirnya pun akan merugikan orang tua itu sendiri. Kabar yang disampaikan oleh Rosulullah ini memberikan potensi bagi kita untuk menjadikan anak sebagai amal di hari kelak nanti. 
Faktor pertama dalam pendidikan anak adalah keluarga, dan bisa dikatakan madrasah paling pertama bagi anak. Jika binaan dalam keluarga terhadap anak itu baik dan bisa membuat si anak mampu menerapkan ajaran syari’at islam dan mengenal aspek-aspek spiritual, maka si anak akan mudah menggapai masa depan yang cerah. Namun jika sebaliknya anak kurang terkontrol dan sulit untuk diatur maka si anak akan kesulitan mendapatkan masa depan yang membanggakan. Sesungguhnya memang tidak mudah dalam mendidik dan membesarkan anak hingga menjadi pribadi yang kita harapkan untuk meraih kesuksesan dunia akhirat. Semua itu membutuhkan kesabaran, kerja keras, keikhlasan, dan masih banyak lagi.
Setelah kita mengetahui betapa pentingnya mentarbiyah anak untuk menjadi seorang anak yang sholih, maka kita membutuhkan suri tauladan bagi para pendidik yaitu Rosulullah dan mengambil cara beliau dalam mendidik anak.
Yang harus dimiliki oleh seorang pendidik
Allah ta’ala berfirman,
“ Sungguh, telah ada pada diri Rosulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat yang banyak mengingat Allah.” ( Al-Ahzab: 21)
Dengan bercermin pada diri Rosulullah Seorang pendidik yang berhasil tidak boleh lepas dari sifat-sifat di bawah ini, diantaranya ada:
  1. Bertakwa
Inilah sifat terpenting yang harus dimiliki seorang pendidik. Yaitu takwa yang didefinisikan oleh para ulama’ “ Menjaga agar Allah tidak mendapatimu pada perkara yang Dia larang, dan jangan sampai Allah tidak mendapatimu pada perkara yangDia perintahkan.
2.      Berilmu
Pendidik harus berbekal ilmu yang memadai. Mendidik dan mengarahkan anak dengan ajaran-ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah. Memberikan contoh yang baik kepada mereka dengan keteladanan yang agung dari Nabi dan para sahabat beliau. Sebaliknya, jika pendidik tidak mengetahui semua itu, lebih-lebih tentang konsep dasar pendidikan anak, maka anak akan menjadi manusia yang tidak berharga dan rusak moral, spiritual, mental dan sosialnya.
3.      Lemah lembut
Inilah salah satu sifat yang dicintai Allah dan disukai oleh manusia. Pada hakekatnya setiap jiwa menyukai kelembutan, terlebih jiwa anak yang masih polos dan lugu. sifat lemah lembut dalam mendidik anak akan mendatangkan banyak kebaikan. Sebaliknya sikap kasar akan membawa keburukan. Disamping itu sikap kasar dapat meninggalkan trauma dan memori buruk dalam jiwa dan ingatan si anak. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad dari Ibunda Aisyah,
“ Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan suka kepada sifat lembut. Allah akan memberikan kepada orang yang ramah sesuatu yang tidak diberikan kepada orang yang kasar dan sesuatu yang tidak allah berikan kepada selainnya.”(HR. Bukhori dan Muslim)
4.      Penyabar
Sifat ini juga tak kalah pentingnya bagi pendidik. Karena kebutuhan kepadanya sangat berpengaruh terhadap si pendidik, apakah dia mampu bertahan (sabar) ataukah tidak (putus asa) dalam mendidik anak. Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas bahwa Rosulullah bersabda kepada Asyaj Abdul Qais, “ Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua sifat yang disukai oleh Allah; yaitu kesabaran dan ketabahan.”
5.        Kejujuran
Dengan kejujuran ini akan selalu mengalirkan aura positif pada anak-anak yang dengan sendirinya akan berpengaruh besar pada sikap dan kebiasaan si anak. Karena anak didik akan meniru sifat pendidiknya.
Jika seorang pendidik telah menyandang semua sifat  diatas, dan melengkapinya dengan sifat positif pendidik yang lain, misal berhati penyayang, tidak pemarah,bersifat pertengahan dan masih banyak lagi. Subhanallah, apa yang akan tercetak pada diri seorang anak?  
Yang harus ditanamkan pada diri seorang anak
Dalam mendidik anak, tidak hanya intelektualnya saja yang harus dikembangkan. Tapi juga harus mencetak mereka menjadi seseorang yang berakhlaq mulia. Diantaranya dengan,
o   Menanamkan nilai-nilai ketauhidan
Mengenalkan “ siapa Allah”  kepada seorang anak, ini adalah pendidikan yang paling urgen di atas hal-hal selainnya. Mengajarkan tauhid kepada mereka akan menjadikannya lebih mencintai Allah, tidak ada yang ditakutinya kecuali Allah. Dengan menekankan pada si anak bahwa setiap langkah anak Adam selalu dalam pengawasan Allah ta’ala dan penerapan konsep tersebut dengan berusaha mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
o   Menumbuhkan rasa percaya diri anak
Rasa percaya diri sangat penting bagi seorang anak, karena agar si anak terlatih untuk mandiri, mampu mengembangkan bakat yang ada, dan yang pasti optimis, jauh dari sifat pesimis. Adapun suri tauladan kita menggunakan beberapa cara diantaranya, sedang saat berpuasa, Rosulullah mengajak anak-anak bermain,hingga siang yang panjang terasa cepat dan menyambut berbuka puasa dengan gembira, hal ini membuat si anak  memiliki kepercayaan diri sehingga sanggup berpuasa seharian penuh. Kemudian juga sering membawa anak-anak ke majelis, resepsi, bersilaturahim ke rumah saudara sebagai upaya menumbuhkan kepercayaan diri sosialnya.
o   Membiasakan shalat
Membiasakan shalat pada anak merupakan suatu hal yang sangat penting, karena shalat itu sebagai tiangnya agama. Karenanya hal itu juga ditekankan oleh Nabi kita, dalam suatu hadits yang berbunyi, “ Suruhlah anak-anakmu mengerjakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun. Dan pukullah mereka jika tidak mau mengerjaknnya ketika mereka berumur sepuluh tahun.” (HR. Abu Daud)
o   Melibatkan anak dalam perkara amar ma’ruf nahi mungkar
Kenapa hal ini penting juga bagi seorang anak?
Yang pasti supaya anak mengetahui mana yang diperintah dan mana yang dilarang oleh Allah. Adapun Luqman menegaskan  ini pada anaknya, karena berpengaruh dalam diri seseorang. Ketika kita memerintah kebaikan/ melarang keburukan pada orang lain maka kita akan memiliki beban mental akan keharusan melalukan/ menjauhi hal itu. Apalagi bila kita menganjurkan kebaikan/ melarang keburukan itu sementara kita sendiri tidak melakukannya, maka Allah justru akan memurkai kita.
Di antara yang di atas, masih banyak lagi yang harus ditanamkan pada anak, seperti sifat agar saling berbagi pada sesama, selalu jujur, saling memaafkan, dan sabar.

Sungguh sang pendidik yang hebat dan berhasil, jika bisa merealisasikan pada anak didiknya. Seperti bunda Fathimah binti Ubaidillah yang mentarbiyah anak sejenius Imam Syafi’i, seperti Ummu Sulaim yang berperan besar dibalik kecerdasan Anas bin Malik, seperti bunda Asma’ binti Abu Bakar yang anaknya termasuk salah satu dari tujuh fuqaha’ Madinah. Tidak lain dan tidak bukan apa yang mereka ajarkan kepada anak mereka tidak lepas dari ajaran nabi kita Muhammad. Subhanallah !! sungguh surga telah menanti mereka. Wallahu a’lam bis showab.

                        Referensi
o   Al-qur’anul Karim
o   Al-Jam’u baina shohihain Al-Bukhori wa Muslim, Muhammad bin Futuh al-Hamidi
o   Ibunda para ulama’, Sufyan bin Fuad Baswedan
o   Mendidik anak bersama nabi, Muhammad Suwaid

Saturday, 22 February 2014

Sekilas tentang Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah



Beliau bernama Muhammad bin Abi Bakar bin Ayyub bin Sa’ad bin Hariz bin Makki. Nama panggilannya adalah Abu Abdillah,sedang nama gelarnya adalah Syamsuddin. Namun beliau terkenal dengan nama Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah. Ayahnya Syaikh Abu Bakar bin Ayyub mendirikan madrasah Al-Jauziyah, sehingga keturunannya terkenal dengan nama dengan Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah.
Dr.Bakar bin Zaid mengatakan, ”kitab-kitab tarajum (biografi) sepakat mengatakan bahwa kelahiran Ibnul Qoyyim adalah pada tahun 691 Hijriyah.”
Beliau berguru pada Ibnu Taimiyah sehingga beliau pandai dalam ilmu-ilmu keislaman seperti tafsir, ushuluddin, hadits, makna dan fiqihnya serta rahasia-rahasia pengambilan hukumnya. Perjalanan mencari ilmu beliau mulai sejak berumur tujuh tahun. Dr. Bakar bin Abdullah Abu Zaid mengatakan, “Orang yang membaca boigrafi Ibnul Qayyim, akan mengrtahui bahwa dia adalah orang yang haus akan ilmu pengetahuan. Seorang yang bersungguh-sungguh dalam belajar, merenung dan berguru dari para syaikh yang bermadzhab Hambali maupun tidak.
Diantara murid-muridnya adalah Ibnu Katsir,Ibnu Rajab,As-Subki,Adz-Dzahabi dll.Beliau tidak hanya berguru dari Ibnu Taimiyah saja namun juga pada guru yang lain diantaranya ada ayahnya sendiri Abu Bakar bin Ayyub Qayyim Al-Jauzi,Ibnu Maktum,Ibnu Asy –Syirazi.
Ibnu Qayyim mempunyai banyak karangan diantaranya ada Ahkam Ahli Adz-Dzimmah,Badai’Al-Fawaid,Ath-Thib An-Nabawi dan masih banyak lagi.
Di penghujung hidupnya, beliau meninggal pada malam Kamis tanggal 13 Rajab saat berkumandang adzan Isya’ pada tahun 751 Hijriyah. Beliau meninggal pada usia 60 tahun . jenazahnya dishalatkan pada hari berikutnya setelah shalat dzuhur di masjid Al- Umawi, kemudian dishalati juga di masjid Jarah dan banyak peziarah yang mengiringi upacara penguburannya.

Thursday, 2 January 2014

Wanita dicipta untuk dilindungi



Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan di tempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiarkan terserak bukan? Itulah bandingannya dengan seorang wanita. Allah tidak menciptakan wanita dari kepala laki-laki untuk dijadikan atasannya. Tidak juga Allah ciptakan wanita dari kaki laki-laki untuk dijadikan bawahannya. Tetapi Allah menciptakan wanita dari tulang rusuk laki-laki, dekat dengan lengannya untuk dilindunginya, dan dekat dengan hatinya untuk dicintainya.
Begitu juga dengan syari’at islam sangat melindungi kaum wanita, karena kebanyakan dari merekalah banyak terjadi fitnah dan mayoritas  penduduk neraka. Oleh karena itu, dari segi penampilan, kaum feminis inilah yang mempunyai peraturan lebih banyak daripada kaum laki-laki yaitu lebih banyaknya aurat yang harus ditutup, karena dari situlah terdapat sebab terjadinya fitnah.  Sehingga banyak nash yang mewajibkan mereka supaya menutup aurat dan keutamaan mereka supaya berdiam diri di dalam rumah serta larangan untuk pergi keluar rumah. Dalam al-Qur’an  termaktub sebuah aturan yang ditujukan pada kaum Hawa,
"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu." (QS. Al-Ahzab :33)
Begitu juga perbedaan dengan laki-laki dalam hal menunaikan sholat yang mereka diharuskan untuk berjama’ah di masjid sedangkan untuk wanita? tidak, bahkan sangat jauh berbeda. Dalam hal ini Rasulullah bersabda,
“Shalat wanita di ruangannya adalah lebih baik daripada di kamarnya. Dan shalat di kamarnya adalah lebih baik daripada di rumahnya, dan shalat di rumahnya adalah lebih baik daripada di masjid.”

Tugas dan keutamaannya
Ketika seorang wanita menyandang sebagai istri maka harus taat kepada suami. Karena itu merupakan tugas  seorang istri untuk menggapai jannah-Nya. Dengan dilengkapi syarat lainnya yaitu, mengerjakan sholat lima waktu, melaksanakan kewajiban  shoum pada bulan Ramadhan dan menjaga kehormatannya, maka jika dilaksanakan baginyalah syurga. Namun ketahuilah bahwa lelaki juga mempunyai kewajiban yang tak kalah dari seorang istri mentaati suaminya yaitu taat kepada ibunya tiga kali lebih utama daripada kepada bapaknya.
Seiring bertambahnya amanah, seorang istri bersusah payah untuk mengandung dan melahirkan anak, namun dibalik kesusah payahannya, setiap saat dia dido’akan oleh seluruh makhluk Allah  di muka bumi ini termasuk juga oleh malaikat. Dan ketahuilah bahwa jika ia meninggal dunia karena melahirkan maka pahala syahid dan syurga menantinya. Keutamaan yang sama juga diberikan pada wanita yang mengalami fase berikutnya setelah melahirkan yaitu nifas. Jika seorang wanita meninggal dalam keadaan nifas maka dia syahid. Sebagaimana dari Ubadah bin Shamit, Nabi bersabda,
 “Terbunuh di jalan Allah adalah syahid, meninggal karena sakit perut adalah syahid, meninggal karena tenggelam adalah syahid, dan meninggal dalam keadaan nifas adalah syahid.”
Rasulullah  mentahbiskan wanita ketika sudah menjadi ibu, sebagai manusia yang pertama kali wajib diperlakukan baik oleh seorang anak, tiga kali sebelum ayah.  Sehingga sangat pantas sekali jika sosoknyalah yang menjadi seorang pendidik pertama sebelum ayah bagi anak-anak mereka. Dikatakan bahwa,
" الأُم مدرسة اذا اعددتها  اعددت شعوبا طيب الاءعرق "
“Ibu itu adalah sekolah, jika kamu mempersiapkannya maka kamu telah mempersiapkan generasi yang baik.”
 Sungguh mulia amal perbuatannya. Oleh karenanya sebaik-baik perhiasan dunia adalah mar’atus sholihah yang mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. Nabi Muhammad bersabda,“Sesungguhnya semua di dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang sholihah.”( HR. Muslim)